Unnes
Universitas Negeri Semarang (Unnes) adalah universitas konservasi. Konservasi memang telah menjadi visi universitas ini. Lengkapnya, universitas konservasi bertaraf internasional yang sehat, unggul, dan sejahtera. Di kampus Sekaran, 12 Maret 2010, keberadaan Unnes sebagai universitas konservasi telah dideklarasikan. Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh hadir dan meresmikannya.
Konselor
Konselor atau pembimbing adalah seorang yang mempunyai keahlian dalam melakukan konseling/penyuluhan. Berlatar belakang pendidikan minimal sarjana strata 1 (S1) dari jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB), Bimbingan Konseling (BK), atau Bimbingan Penyuluhan (BP).
Minggu, 11 Januari 2015
Contoh Penyampaian Hasil Tes Intelegensi
Konselor : Angga Nurlitasari (1301413973)
Klien :
Dwi Riskiyani (1301413065)
Setting :
Ruang BK
Verbatim
Klien :
Assalamualaikum,
Konselor :
Waalaikum salam, eh nak Dwi, mari silakan duduk.
Klien :
Iya Bu, terimakasih, maaf Ibu Angga, benar Ibu memanggil saya?
Konselor :
Benar nak Dwi,
Klien :
Ohh begitu Bu, kalau boleh tahu kenapa ya Bu Ibu memanggil saya?
Konselor :
Ibu memanggil kamu untuk membicarakan hasil psikotes yang kamu kerjakan sebulan
yang lalu, kamu ingat tidak?
Klien :
Iya Bu saya ingat, kebetulan Bu, saya ingn sekali mengetahui hasil psikotes
saya bu.
Konselor :
Wah tampaknya kamu bersemangat sekali ya, Ibu jadi ikutan bersemangat ini.
Sekarang coba lihat hasil psikotes kamu, namanya Dwi Riskiyani, kelas X.2 benar
kan?
Klien :
Iya benar Bu.
Konselor :
Setelah benar melihat identitasmu, coba lihat pada bagian tes Intelegensi SPM,
disitu tertulis rentang IQ 120-133, artinya intelegensi umum kamu
diklasifikasikan superior
Klien :
Ohh begitu, saya paham bu
Konselor :
Lalu coba kamu lihat pada tes bakat diferensial, lihat satu persatu jumalh
persentil point dari verbal sampai kecepatan dan ketelitian klerikal, bagaimana
pendapatmu?
Klien :
Saya lihat, kemampuan verbal, numerikan serta skolastik saya yang paling tinggi
bu dan nilainya sama, sedangkan kemampuan numeric saya yang paling rendah bu,
apa artinya ya bu?
Konselor :
Oke… sebelumnya perlu diketahui, kalau persenti poinnya (PP) itu diantara 1-49
berarti rendah, sedangkan 50-74 berarti sedang, nah kalau PPnya lebih besar
sama dengan 75 berarti tiggi. Nah kalau kemampuan verbal, numeric serta
skolastik kamu PPnya 75 berarti kamu berbakat pada ketiga bidang itu.
Klien :
Ohh begitu ya bu
Konselor :
Iya seperti itu, kemudian sekarang mari kita lihat tentang minat jabatan,
bagaimana pendapatmu mengenai hal ini?
Klien :
yang saya pahami saya minat saya yang tertinggi pada bidang seni bu, apa
maksudnya ya bu?
Konselor :
Iya benar sekali, kamu mempunyai keinginan besar untuk bekerja di bidang seni,
dan kamu lihat disini bidang mekanik dan sainsmu rendah, hal ini berarti kamu
tidak menyukai hal-hal yang berkaitan dengan mekanik dan juga sains. Bagaimana
menurutmu?
Klien :
Iya bu, itu yang selama ini saya rasakan
Konselor :
Setelah mengetahui semua hal itu, apakah ada yang ingin kamu tanyakan?
Klien :
Iya Bu ada, kan tadi saya udah tahu tentang bakat dan minat saya yang tertinggi
sampai yang terendah, lalu apa aplikasi konkret buat saya Bu?
Konselor :
Bagus sekali pertanyaanmu, jadi begini dengan melihat seberapa besar bakat dan
tingkat minatmu, kamu nantinya bisa mempertimbangkan lebih matang potensi bakat
dan minat yang dapat kamu aplikasikan untuk memilih penjurusan atau karir kamu
yang sesuai.
Klien :
Ohh begitu ya pak
Konselor :
Coba dilihat lagi bakat kamu yang tertinggi pada verbal, numerical, skolastik
lalu disusul dengan relasi ruang, nah kalau kamu bisa meningkatkan minatmu pada
bidang relasi ruang kamu dapat direkomendasikan pada jurusan IPA dan bekerja
pada bidang Komputatif, namun semua pilihan juga kembali kepada dirimu sendiri.
Semua pertimbangan dan keputusannya ada didirimu.
Konseli :
Ohh iya Bu, terimakasih atas masukan dan penjelasan mengenai hasil psikotes
saya.
Konselor :
Iya sama-sama nak Dwi, ini sudah menjadi tanggung jawab Ibu sebagai seorang
konselor di sekolah ini
Klien :
Iya bu, Ibu saya pamit dulu ya, saya ada pelajaran sehabis ini, nanti saya akan
tanya lagi dengan ibu kalau ada yang masih ingin saya ketahui
Konselor :
Dengan senang hati Ibu akan menerimamu
Klien :
Baik Bu, Selamat Pagi
Konselor :
Selamat pagi
Selasa, 30 Desember 2014
Contoh Analisis Konten Media
Berikut Contoh dari Analisis Konten Media mengenai Cabe-cabean yang sekarang ini mulai marak di kota-kota besar
Analisis Konten Media
Paper
disusun guna
memenuhi tugas Mata Kuliah Pendidikan Pancasila
Dosen Pengampu
Arif Hidayat, S. H., M. H.
oleh :
Angga
Nurlitasari Hariyono
1301413073
Rombel 70
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
Lika-liku
Bisnis "Cabe-cabean" di Jakarta...
Selasa, 1
April 2014 | 10:08 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Buat sebagian warga Jakarta, istilan "cabe-cabean" sudah tak asing lagi. Mereka kerap berada di sekitar arena balap motor liar di Jakarta dan juga di perempatan-perempatan. Tarif "cabe-cabean" atau pekerja seks komersial yang berusia belasan tahun mencapai hingga Rp 30 juta.
Lantas, bagaimana bisnis "cabe-cabean" di Jakarta?
Chito, seorang pebalap motor liar yang merangkap sebagai "germo", mengungkapkan lika-liku bisnis "cabe-cabean" di Jakarta. Pelajar SMA ini mengaku mendapat inspirasi menggeluti bisnis ini dari Farhan (bukan nama sebenarnya), temannya. Kini, Farhan dikatakan telah meraup untung banyak dari bisnis "cabe-cabean".
Ia menceritakan, Farhan menjual pacarnya sendiri. Pacar Farhan ini awalnya "cabe" balapan liar. Mereka baru berpacaran empat bulan. Sang pacar tertarik karena Farhan kerap menang di arena balap liar.
Farhan awalnya berprofesi sebagai joki balap liar. Dia yang merayu pacarnya agar mau menjual kegadisannya. "Daripada saya yang pakai sendiri tidak saya bayar, lebih baik orang lain," ujar Chito meniru ucapan Farhan.
Harga kegadisan pacar Farhan terjual Rp 38 juta di Kemayoran. Farhan menjualnya sendiri di Kemayoran, Jakarta Pusat. Ia mengincar orang-orang tua yang nongkrong di situ. Kemudian, pembelinya adalah seorang lelaki tua bermobil sedan putih mengilap dan baru.
Adalah Chito yang mengantar dan menunggu sampai selesai. Selanjutnya, uang tersebut dibagi tiga. "Cabe" mendapat Rp 30 juta, Farhan sebesar Rp 5 juta, dan Chito sisanya.
Farhan kemudian mengembalikan uang sebesar Rp 5 juta itu ke arena balap liar. Dia membongkar motor matic-nya habis-habisan, menaikkan kapasitas mesin motor matic-nya dengan meng-oversize mesin, mengganti ban depan dan belakang dengan ban kecil, mengecat motornya dengan teknik air brush.
Inilah "lingkaran setan" di dunia balap liar. Ada "cabe" yang masih gadis atau tidak, ada motor yang butuh dana, serta uang taruhan. "Cabe" yang masih gadis dijual, lalu uangnya kembali lagi ke arena balap liar. Uang ini digunakan untuk taruhan dan memodifikasi motor.
Dioper
Chito mengatakan, menjual "cabe" yang masih gadis lebih sulit. Ada istilah "dioper" dalam bisnis "cabe" gadis. Dioper berarti dijual oleh pihak ketiga atau pihak lain. Makanya, tidak heran kalau tarifnya semakin mahal. Belum lagi ada istilah "uang berisik". Uang ini diberikan konsumen ke penjual terakhir. Besarannya beragam, tergantung kesepakatan, berkisar Rp 500.000 sampai Rp 2 juta.
JAKARTA, KOMPAS.com — Buat sebagian warga Jakarta, istilan "cabe-cabean" sudah tak asing lagi. Mereka kerap berada di sekitar arena balap motor liar di Jakarta dan juga di perempatan-perempatan. Tarif "cabe-cabean" atau pekerja seks komersial yang berusia belasan tahun mencapai hingga Rp 30 juta.
Lantas, bagaimana bisnis "cabe-cabean" di Jakarta?
Chito, seorang pebalap motor liar yang merangkap sebagai "germo", mengungkapkan lika-liku bisnis "cabe-cabean" di Jakarta. Pelajar SMA ini mengaku mendapat inspirasi menggeluti bisnis ini dari Farhan (bukan nama sebenarnya), temannya. Kini, Farhan dikatakan telah meraup untung banyak dari bisnis "cabe-cabean".
Ia menceritakan, Farhan menjual pacarnya sendiri. Pacar Farhan ini awalnya "cabe" balapan liar. Mereka baru berpacaran empat bulan. Sang pacar tertarik karena Farhan kerap menang di arena balap liar.
Farhan awalnya berprofesi sebagai joki balap liar. Dia yang merayu pacarnya agar mau menjual kegadisannya. "Daripada saya yang pakai sendiri tidak saya bayar, lebih baik orang lain," ujar Chito meniru ucapan Farhan.
Harga kegadisan pacar Farhan terjual Rp 38 juta di Kemayoran. Farhan menjualnya sendiri di Kemayoran, Jakarta Pusat. Ia mengincar orang-orang tua yang nongkrong di situ. Kemudian, pembelinya adalah seorang lelaki tua bermobil sedan putih mengilap dan baru.
Adalah Chito yang mengantar dan menunggu sampai selesai. Selanjutnya, uang tersebut dibagi tiga. "Cabe" mendapat Rp 30 juta, Farhan sebesar Rp 5 juta, dan Chito sisanya.
Farhan kemudian mengembalikan uang sebesar Rp 5 juta itu ke arena balap liar. Dia membongkar motor matic-nya habis-habisan, menaikkan kapasitas mesin motor matic-nya dengan meng-oversize mesin, mengganti ban depan dan belakang dengan ban kecil, mengecat motornya dengan teknik air brush.
Inilah "lingkaran setan" di dunia balap liar. Ada "cabe" yang masih gadis atau tidak, ada motor yang butuh dana, serta uang taruhan. "Cabe" yang masih gadis dijual, lalu uangnya kembali lagi ke arena balap liar. Uang ini digunakan untuk taruhan dan memodifikasi motor.
Dioper
Chito mengatakan, menjual "cabe" yang masih gadis lebih sulit. Ada istilah "dioper" dalam bisnis "cabe" gadis. Dioper berarti dijual oleh pihak ketiga atau pihak lain. Makanya, tidak heran kalau tarifnya semakin mahal. Belum lagi ada istilah "uang berisik". Uang ini diberikan konsumen ke penjual terakhir. Besarannya beragam, tergantung kesepakatan, berkisar Rp 500.000 sampai Rp 2 juta.
|
Editor
|
: Hindra
Liauw
|
||
|
Sumber
|
|||
|
http://megapolitan.kompas.com/read/2014/04/01/1008468/Lika-Liku.Bisnis.Cabe-cabean.di.Jakarta.
|
|||
Tarif
"Cabe-cabean" di Jakarta Rp 30 Juta
Selasa, 1
April 2014 | 09:37 WIB
JAKARTA,
KOMPAS.com —
Remaja laki-laki berusia sekitar 16 tahun langsung bersemangat begitu melihat
ada sebuah mobil berhenti, Jumat (28/3/2014) malam. "Mencari
'cabe-cabean', Om?" tanyanya kepada seorang pengendara mobil.
Waktu sudah menunjukkan hampir lewat tengah malam di kawasan Kembangan, Jakarta Barat, tak jauh dari Kantor Wali Kota Jakarta Barat. Remaja itu tak sendiri. Dia berlima dengan rekannya, masing-masing membawa sepeda motor.
Dari lima remaja itu, empat di antaranya mengaku masih duduk di kelas X SMK. Seorang lagi sudah putus sekolah sejak SMP. Mereka punya bisnis "cabe-cabean", tetapi baru dalam tahap merintis.
Salah satu remaja itu meminta dipanggil Chito (bukan nama sebenarnya). Di antara rekan-rekannya, baru dia yang punya stok "cabe-cabean". "Saya punya dua stok 'cabe' yang siap diantar apabila ada yang memesan jasanya," katanya terus terang.
Satu "cabe" masih gadis. Usianya baru 16 tahun dan masih duduk di kelas X SMA. Ia mengatakan bahwa orang yang dimaksud cantik, berkulit putih, dan berambut panjang. Namanya Sasya (bukan nama sebenarnya). "Ia dijamin masih gadis. Harganya Rp 20 juta," ujar remaja ini sebagaimana dilansir Warta Kota.
Kemudian, satu "cabe" lainnya jauh lebih murah karena bukan gadis lagi. Sama seperti Sasya, dia masih duduk di kelas X SMA. Namanya Dini (bukan nama sebenarnya). Sekali melayani tamu, tarifnya Rp 500.000. "Satu kali saja, Mas, dan tinggal mencari hotel saja," kata remaja itu.
Namun, Dini tak bisa melayani tamu di atas pukul 22.00 lantaran harus pulang ke rumah pada jam itu, kecuali pada akhir pekan. Sementara Sasya hanya bisa sampai pukul 17.00 karena orangtuanya mengharuskan Sasya harus sudah pulang.
Dini dan Sasya punya perbedaan. Dini tadinya "cabe" di arena balapan liar. Saat duduk di kelas II SMP, Dini sudah melepas kegadisannya senilai Rp 15 juta. Chito mengaku mengenal Dini dari arena balap liar.
Sementara Sasya, kata Chito, dikenalnya di sebuah pusat perbelanjaan. Setelah keduanya sering kontak dan jalan bareng, Sasya meminta Chito menjual kegadisannya.
Chito mengaku, menjual Dini lebih mudah ketimbang menjual Sasya. "Kalau Sasya harus bos-bos soalnya. Kalau Mas punya bos mau, kabari saja, atau tawarin saja sekalian, naikkan tarifnya. Nanti kelebihannya untuk Mas," kata Chito.
Di Jakarta, pasaran "cabe" gadis paling mahal Rp 30 juta. Transaksi ini pernah terjadi di kawasan Kemayoran. "Makanya, nanti Sasya mau saya coba tawarkan di Kemayoran. Bisa lebih tinggi di sana," kata Chito.
Waktu sudah menunjukkan hampir lewat tengah malam di kawasan Kembangan, Jakarta Barat, tak jauh dari Kantor Wali Kota Jakarta Barat. Remaja itu tak sendiri. Dia berlima dengan rekannya, masing-masing membawa sepeda motor.
Dari lima remaja itu, empat di antaranya mengaku masih duduk di kelas X SMK. Seorang lagi sudah putus sekolah sejak SMP. Mereka punya bisnis "cabe-cabean", tetapi baru dalam tahap merintis.
Salah satu remaja itu meminta dipanggil Chito (bukan nama sebenarnya). Di antara rekan-rekannya, baru dia yang punya stok "cabe-cabean". "Saya punya dua stok 'cabe' yang siap diantar apabila ada yang memesan jasanya," katanya terus terang.
Satu "cabe" masih gadis. Usianya baru 16 tahun dan masih duduk di kelas X SMA. Ia mengatakan bahwa orang yang dimaksud cantik, berkulit putih, dan berambut panjang. Namanya Sasya (bukan nama sebenarnya). "Ia dijamin masih gadis. Harganya Rp 20 juta," ujar remaja ini sebagaimana dilansir Warta Kota.
Kemudian, satu "cabe" lainnya jauh lebih murah karena bukan gadis lagi. Sama seperti Sasya, dia masih duduk di kelas X SMA. Namanya Dini (bukan nama sebenarnya). Sekali melayani tamu, tarifnya Rp 500.000. "Satu kali saja, Mas, dan tinggal mencari hotel saja," kata remaja itu.
Namun, Dini tak bisa melayani tamu di atas pukul 22.00 lantaran harus pulang ke rumah pada jam itu, kecuali pada akhir pekan. Sementara Sasya hanya bisa sampai pukul 17.00 karena orangtuanya mengharuskan Sasya harus sudah pulang.
Dini dan Sasya punya perbedaan. Dini tadinya "cabe" di arena balapan liar. Saat duduk di kelas II SMP, Dini sudah melepas kegadisannya senilai Rp 15 juta. Chito mengaku mengenal Dini dari arena balap liar.
Sementara Sasya, kata Chito, dikenalnya di sebuah pusat perbelanjaan. Setelah keduanya sering kontak dan jalan bareng, Sasya meminta Chito menjual kegadisannya.
Chito mengaku, menjual Dini lebih mudah ketimbang menjual Sasya. "Kalau Sasya harus bos-bos soalnya. Kalau Mas punya bos mau, kabari saja, atau tawarin saja sekalian, naikkan tarifnya. Nanti kelebihannya untuk Mas," kata Chito.
Di Jakarta, pasaran "cabe" gadis paling mahal Rp 30 juta. Transaksi ini pernah terjadi di kawasan Kemayoran. "Makanya, nanti Sasya mau saya coba tawarkan di Kemayoran. Bisa lebih tinggi di sana," kata Chito.
|
Editor
|
: Hindra
Liauw
|
|
Sumber
|
Mengenal "Cabe-cabean" di
Jakarta
Selasa, 1
April 2014 | 11:54 WIB
JAKARTA,
KOMPAS.com —
Istilah "cabe-cabean" ramai diberitakan belakangan ini. Bagi orang
awam, istilah ini digunakan untuk menggambarkan gadis di bawah umur yang mulai
merintis bisnis prostitusi.
Awalnya, "cabe-cabean" adalah sebutan untuk perempuan ABG yang menjadi bahan taruhan di arena balap liar. "Cabe" balapan yang sudah sering berhubungan seksual memilih untuk menjual dirinya.
Saat ini, ada tiga jenis "cabe", yakni "cabe ijo", "cabe merah", dan "cabe oranye".
"Cabe ijo" yang memiliki kelas tertinggi dari kelas "cabe-cabean" itu merupakan gadis di bawah umur yang berusia sekitar 14-17 tahun. Tak sedikit dari mereka yang merupakan siswa sekolah menengah atas (SMA), bahkan beberapa ada yang masih berada di sekolah menengah pertama. Mereka memiliki gaya busana yang modis dan trendi, tetapi tidak menonjol.
Berbeda dengan "cabe-cabean" lainnya, "cabe ijo" hanya dapat dijumpai di beberapa pusat perbelanjaan kelas atas ataupun lokasi-lokasi gaul di bilangan Jakarta. Kebanyakan mereka ditemui secara berkelompok dan hanya memilih pelanggan yang sudah dikenalnya lewat media sosial, seperti Twitter dan Facebook.
"Cabe ijo" juga aktif di media sosial. Mereka kerap memasang foto-foto dengan pose tertentu dan informasi tarif di akun media sosial mereka. Mereka bekerja sebagai pekerja seks komersial (PSK) untuk memenuhi kebutuhan tersier seperti membeli pakaian, telepon genggam, sehingga tidak mudah bagi pelanggan untuk menyewa jasanya karena harus melalui tahapan pendekatan.
Pendekatan, di antaranya, bisa berupa mem-follow akun Twitter-nya, kerap me-retweet atau rajin memberikan komentar.
Sementara itu, "cabe merah" adalah PSK yang berusia 16-19 tahun. "Cabe merah" sedikit lebih menonjol karena berani mengenakan pakaian mini dan menonjolkan lekuk tubuh. Mereka pun kerap menghabiskan waktu di minimarket ataupun klub-klub malam di Jakarta.
"Cabe merah" relatif lebih mudah dicari. Mereka biasanya beroperasi sesuai jam operasional klub, mulai pukul 22.00-03.00. Transaksinya juga jelas, tinggal ditanya, langsung jalan.
Selanjutnya "cabe oranye". Tipe ini biasanya berkumpul di taman, arena parkir liar, ataupun pinggir jalan. Pada beberapa kesempatan, "cabe-cabean" ini menggunakan berbagai modus untuk menjaring pelanggan, mulai dari mengamen ataupun ikut para pebalap liar.
"Cabe oranye" menjadikan ini sebagai profesi tetap.
Awalnya, "cabe-cabean" adalah sebutan untuk perempuan ABG yang menjadi bahan taruhan di arena balap liar. "Cabe" balapan yang sudah sering berhubungan seksual memilih untuk menjual dirinya.
Saat ini, ada tiga jenis "cabe", yakni "cabe ijo", "cabe merah", dan "cabe oranye".
"Cabe ijo" yang memiliki kelas tertinggi dari kelas "cabe-cabean" itu merupakan gadis di bawah umur yang berusia sekitar 14-17 tahun. Tak sedikit dari mereka yang merupakan siswa sekolah menengah atas (SMA), bahkan beberapa ada yang masih berada di sekolah menengah pertama. Mereka memiliki gaya busana yang modis dan trendi, tetapi tidak menonjol.
Berbeda dengan "cabe-cabean" lainnya, "cabe ijo" hanya dapat dijumpai di beberapa pusat perbelanjaan kelas atas ataupun lokasi-lokasi gaul di bilangan Jakarta. Kebanyakan mereka ditemui secara berkelompok dan hanya memilih pelanggan yang sudah dikenalnya lewat media sosial, seperti Twitter dan Facebook.
"Cabe ijo" juga aktif di media sosial. Mereka kerap memasang foto-foto dengan pose tertentu dan informasi tarif di akun media sosial mereka. Mereka bekerja sebagai pekerja seks komersial (PSK) untuk memenuhi kebutuhan tersier seperti membeli pakaian, telepon genggam, sehingga tidak mudah bagi pelanggan untuk menyewa jasanya karena harus melalui tahapan pendekatan.
Pendekatan, di antaranya, bisa berupa mem-follow akun Twitter-nya, kerap me-retweet atau rajin memberikan komentar.
Sementara itu, "cabe merah" adalah PSK yang berusia 16-19 tahun. "Cabe merah" sedikit lebih menonjol karena berani mengenakan pakaian mini dan menonjolkan lekuk tubuh. Mereka pun kerap menghabiskan waktu di minimarket ataupun klub-klub malam di Jakarta.
"Cabe merah" relatif lebih mudah dicari. Mereka biasanya beroperasi sesuai jam operasional klub, mulai pukul 22.00-03.00. Transaksinya juga jelas, tinggal ditanya, langsung jalan.
Selanjutnya "cabe oranye". Tipe ini biasanya berkumpul di taman, arena parkir liar, ataupun pinggir jalan. Pada beberapa kesempatan, "cabe-cabean" ini menggunakan berbagai modus untuk menjaring pelanggan, mulai dari mengamen ataupun ikut para pebalap liar.
"Cabe oranye" menjadikan ini sebagai profesi tetap.
|
Editor
|
: Hindra
Liauw
|
|
Sumber
|
|
|
|
Semakin Pagi, Tarif "Cabe-cabean" Melorot...
Selasa, 1 April 2014 | 13:40 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Keberadaan pekerja seks komersial (PSK)
berusia belasan tahun atau dikenal dengan sebutan "cabe-cabean" tetap
marak kendati aparat keamanan telah melakukan penertiban. Mereka tetap berani
menjajakan diri.
Penelusuran Warta Kota di kawasan Jakarta Selatan, para gadis muda itu dapat dijumpai di beberapa tempat, seperti di simpang Fatmawati atau tepatnya di depan RS umum Pusat (RSUP) Fatmawati dan Taman Ayodya di Jalan Raya Barito, Blok M, Kebayoran Baru.
Di simpang RSUP Fatmawati, para "cabe-cabean" yang berusia 14 tahun sampai 17 tahun beroperasi sejak pukul 22.00 sampai pukul 02.00. Di lokasi ini, para gadis remaja terlihat mulai menjajakan diri dengan cara mengamen saat lampu lalu lintas berwarna merah. Apabila seorang pelanggan terlihat tertarik dan mulai menawar, sang gadis yang ditemani seorang rekannya naik ke mobil untuk bertransaksi.
Mengendarai sebuah mobil, Warta Kota pun mencoba menyewa jasa para gadis belia itu untuk sekadar mengetahui tarifnya. Untuk menyewa seorang gadis, tarifnya Rp 1 juta lebih. Walaupun terbilang tinggi, tarif itu akan berangsur menurun apabila sudah pukul 01.00.
"Sekali 'transaksi' Rp 1 juta Bang, enggak mahal, kita kan masih muda. Tapi, kalau mau dikurangin (harganya), nunggu agak malam. Soalnya, jam segini ramai langganan," ujar A (14), salah seorang "cabe-cabean" di simpang RSUP Fatmawati.
Garis berambut lurus sebahu, berkulit putih, ini mengenakan kawat gigi. Dia menyebutkan, apabila ingin berkencan, ia harus mengajak serta rekannya. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari adanya kekerasan terhadap dirinya dan rekan lainnya.
"Kalau mau ajak teman kita enggak apa-apa ya Bang, soalnya emang begitu aturannya. Buat mastiin aja, soalnya khawatir nantinya enggak dibayar," ujarnya sambil tertawa terbahak-bahak.
Pertemuan itu berlangsung singkat. Beberapa saat kemudian, seorang pria yang mengendarai sebuah sedan mewah Mercedes-Benz memanggilnya dari seberang jalan. "Tuh, benar kan Bang, ada om datang. Kalau mau sama saya, datang aja nanti malaman lagi," katanya.
A pun beranjak menghampiri pria di dalam mobil Mercy tersebut dan berlalu..
Penelusuran Warta Kota di kawasan Jakarta Selatan, para gadis muda itu dapat dijumpai di beberapa tempat, seperti di simpang Fatmawati atau tepatnya di depan RS umum Pusat (RSUP) Fatmawati dan Taman Ayodya di Jalan Raya Barito, Blok M, Kebayoran Baru.
Di simpang RSUP Fatmawati, para "cabe-cabean" yang berusia 14 tahun sampai 17 tahun beroperasi sejak pukul 22.00 sampai pukul 02.00. Di lokasi ini, para gadis remaja terlihat mulai menjajakan diri dengan cara mengamen saat lampu lalu lintas berwarna merah. Apabila seorang pelanggan terlihat tertarik dan mulai menawar, sang gadis yang ditemani seorang rekannya naik ke mobil untuk bertransaksi.
Mengendarai sebuah mobil, Warta Kota pun mencoba menyewa jasa para gadis belia itu untuk sekadar mengetahui tarifnya. Untuk menyewa seorang gadis, tarifnya Rp 1 juta lebih. Walaupun terbilang tinggi, tarif itu akan berangsur menurun apabila sudah pukul 01.00.
"Sekali 'transaksi' Rp 1 juta Bang, enggak mahal, kita kan masih muda. Tapi, kalau mau dikurangin (harganya), nunggu agak malam. Soalnya, jam segini ramai langganan," ujar A (14), salah seorang "cabe-cabean" di simpang RSUP Fatmawati.
Garis berambut lurus sebahu, berkulit putih, ini mengenakan kawat gigi. Dia menyebutkan, apabila ingin berkencan, ia harus mengajak serta rekannya. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari adanya kekerasan terhadap dirinya dan rekan lainnya.
"Kalau mau ajak teman kita enggak apa-apa ya Bang, soalnya emang begitu aturannya. Buat mastiin aja, soalnya khawatir nantinya enggak dibayar," ujarnya sambil tertawa terbahak-bahak.
Pertemuan itu berlangsung singkat. Beberapa saat kemudian, seorang pria yang mengendarai sebuah sedan mewah Mercedes-Benz memanggilnya dari seberang jalan. "Tuh, benar kan Bang, ada om datang. Kalau mau sama saya, datang aja nanti malaman lagi," katanya.
A pun beranjak menghampiri pria di dalam mobil Mercy tersebut dan berlalu..
|
Penulis
|
: Hindra Liauw
|
|
Editor
|
: Hindra Liauw
|
Penyebab Gadis
Belia Jadi `Cabe-cabean`
·
Kamis, 19 Desember 2013 10:00
Fenomena cabe-cabean dan
terong-terongan yang melanda gadis dan lelaki ABG (anak baru gede) memang
sedang populer saat ini. Sebenarnya apa yang menyebabkan remaja-remaja itu terjerumus
ke fenomena tersebut?
Psikolog Klinik Anak dan Dewasa, Rosdiana Setyaningrum, MPsi, MHPEd menjelaskan, anak-anak usia 14 tahun hingga 18 tahun memang harus hati-hati dalam mendidiknya. Apalagi masa remaja adalah masa pencarian jati diri.
"Kan dari dulu juga sudah banyak groupies gini. Kalau menurut saya sih, di mana-mana anak yang `menyimpang` pasti ada," kata wanita yang akrab disapa Diana saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (19/12/2013).
Menurutnya, saat remaja mencari jati dirinya, ada yang memiliki cara yang baik dengan berprestasi dan ada yang memilih cara instan dengan bersenang-senang seperti cabe-cabean.
Diana mengatakan, ada beberapa hal yang bisa membuat remaja terjerumus ke fenomena yang sedang populer tersebut.
1. Lingkungan
"Karena pengaruh lingkungan yang nggak baik. Bisa juga dari sekolah," ujarnya.
2. Media
"Terpengaruh film-film atau cerita tentang eksis, populer secara instan, dunia materialistis," ujarnya.
3. Orangtua
"Pasti juga ketidak-dekatan dengan orangtua. Saya sih heran, ada anak SMP keluar malam pakai baju seksi. Orangtuanya kemana ya? Masa nggak tahu? Nggak peduli, terlalu sibuk atau terlalu polos jadi gampang dibohongi anaknya?" ujar Diana menegaskan.
Cabe-cabean sebenarnya hanya merujuk pada gadis belia usia SMP dan SMA yang senang keluyuran malam dan nongkrong di dunia balap liar. Sementara terong-terongan terjadi pada remaja pria disebut dengan fenomena terong-terongan. Umumnya fenomena ini melanda remaja pria usia 13 hingga 18 tahun. Biasanya remaja pria ini senang dengan kehidupan malam, suka tawuran, dan menghisap ganja.
(Mel)
Psikolog Klinik Anak dan Dewasa, Rosdiana Setyaningrum, MPsi, MHPEd menjelaskan, anak-anak usia 14 tahun hingga 18 tahun memang harus hati-hati dalam mendidiknya. Apalagi masa remaja adalah masa pencarian jati diri.
"Kan dari dulu juga sudah banyak groupies gini. Kalau menurut saya sih, di mana-mana anak yang `menyimpang` pasti ada," kata wanita yang akrab disapa Diana saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (19/12/2013).
Menurutnya, saat remaja mencari jati dirinya, ada yang memiliki cara yang baik dengan berprestasi dan ada yang memilih cara instan dengan bersenang-senang seperti cabe-cabean.
Diana mengatakan, ada beberapa hal yang bisa membuat remaja terjerumus ke fenomena yang sedang populer tersebut.
1. Lingkungan
"Karena pengaruh lingkungan yang nggak baik. Bisa juga dari sekolah," ujarnya.
2. Media
"Terpengaruh film-film atau cerita tentang eksis, populer secara instan, dunia materialistis," ujarnya.
3. Orangtua
"Pasti juga ketidak-dekatan dengan orangtua. Saya sih heran, ada anak SMP keluar malam pakai baju seksi. Orangtuanya kemana ya? Masa nggak tahu? Nggak peduli, terlalu sibuk atau terlalu polos jadi gampang dibohongi anaknya?" ujar Diana menegaskan.
Cabe-cabean sebenarnya hanya merujuk pada gadis belia usia SMP dan SMA yang senang keluyuran malam dan nongkrong di dunia balap liar. Sementara terong-terongan terjadi pada remaja pria disebut dengan fenomena terong-terongan. Umumnya fenomena ini melanda remaja pria usia 13 hingga 18 tahun. Biasanya remaja pria ini senang dengan kehidupan malam, suka tawuran, dan menghisap ganja.
(Mel)
http://health.liputan6.com/read/779072/penyebab-gadis-belia-jadi-cabe-cabean
Cabe-cabean`, Fenomena
Tahunan dan Masih Lanjut di 2014
Jumat,
20 Desember 2013 16:00
Fenomena
Cabe-cabean yang semakin hari kian disorot media
membuat Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia
(Komnas PA) angkat suara. Menurut Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist
Merdeka Sirait fenomena ini dapat dikatakan fenomena tahunan dan akan berlanjut
di tahun ke depan.
"Sebenarnya fenomena ini terbilang tahunan. Cabe-cabean ini dulu juga ada namun beda namanya misalnya ciblek. Namanya itu kerjaan dari komunitas-komunitas gitu karena anak-anak muda pakaian ketat itu seperti cabe pedas dan menggigit," kata Arist.
Pemerhati anak-anak Seto Mulyadi menambahkan, fenomena Cabe-cabean akan terus berlanjut atau bahkan meningkat bila orangtua tidak dapat mendidik anak.
"Cara mendidik yang salah seperti membuat anak tidak nyaman dengan perlakuan kasar atau kurangnya kasih sayang akan memicu fenomena Cabe-cabean akan terus terjadi dan bisa meningkat kalau tidak dikontrol," kata Seto.
Sependapat dengan Kak Seto, Arist juga mengatakan di 2014 fenomena Cabe-cabean akan masih berlanjut. "Istilah Cabe-cabean kan baru akhir november dikenalnya sekarang baru desember dan diperkirakan 2014 fenomena ini akan berlanjut atau bahka meningkat. Sebaiknya orangtua dan masyarakat harus lebih peduli melindungi mereka," ujar Arist.
"Sebenarnya fenomena ini terbilang tahunan. Cabe-cabean ini dulu juga ada namun beda namanya misalnya ciblek. Namanya itu kerjaan dari komunitas-komunitas gitu karena anak-anak muda pakaian ketat itu seperti cabe pedas dan menggigit," kata Arist.
Pemerhati anak-anak Seto Mulyadi menambahkan, fenomena Cabe-cabean akan terus berlanjut atau bahkan meningkat bila orangtua tidak dapat mendidik anak.
"Cara mendidik yang salah seperti membuat anak tidak nyaman dengan perlakuan kasar atau kurangnya kasih sayang akan memicu fenomena Cabe-cabean akan terus terjadi dan bisa meningkat kalau tidak dikontrol," kata Seto.
Sependapat dengan Kak Seto, Arist juga mengatakan di 2014 fenomena Cabe-cabean akan masih berlanjut. "Istilah Cabe-cabean kan baru akhir november dikenalnya sekarang baru desember dan diperkirakan 2014 fenomena ini akan berlanjut atau bahka meningkat. Sebaiknya orangtua dan masyarakat harus lebih peduli melindungi mereka," ujar Arist.
(Mia/Mel/*) (Melly Febrida)
Analisis
Dari
beberapa contoh kasus di atas, dapat diketahui bahwa moral bangsa Indonesia
semakin hari semakin bobrok. Kegiatan
yang tidak mendidik dapat ditemukan dengan mudah. Salah satunya Cabe-Cabean
ini.
Fenomena
Cabe-Cabean sekarang ini semakin marak terjadi. Kebanyakan fenomena ini terjadi
di kota-kota besar seperti Jakarta. Pelaku fenomena ini kebayakan adalah para
gadis belia, parahnya lagi anak SMP-pun ikut menggeluti bisnis haram ini.
Kisaran umur para gadis belia ini adalah 12 tahun
sampai 18 tahun. Pada kisaran umur tersebut Hurlock mendefinisikan mereka pada
kategori masa remaja. Menurut Hurlock (1980:240) “masa remaja, yang berlangsung
dari saat individu menjadi matang secara seksual sampai usia delapan belas
tahun-usia kematangan yang resmi-dibagi ke dalam awal masa remaja, yang
berlangsung sampai usia tujuh belas tahun, dan akhir masa remaja yang
berlangsung sampai usia kematangan yang resmi.”
Pada masa ini anak remaja dituntut untuk mencari
jati dirinya karena dalam perkembangan masa ini mempunyai ciri-ciri yaitu
mencari identitas. Ketika para remaja sedang dalam proses pencarian identitas,
banyak remaja yang berhasil mencari identitasnya, tetapi banyak juga remaja
yang bingung dalam pencarian ini. Akibat dari kebingungan ini remaja dapat
terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan karena berbagai dorongan dari lingkungan
dan teman sebayanya.
Pada masa ini pula banyak remaja yang sedang berada
dalam masa coba-coba dan penasaran dengan suatu hal yang baru. Ketika mereka
mendapatkan suatu informasi tentang hal yang baru, mereka pasti memiliki
perasaan untuk ingin mencoba hal tersebut. Mereka tidak memandang apakah hal
itu baik ataukah tidak baik. Mereka juga tidak memandang apakah itu
diperbolehkan oleh masyarakat ataukah tidak diperbolehkan. Mereka asal mencoba
dan tidak pernah memikirkan dampak apa yang akan mereka rasakan nantinya.
Maka dari itu dibutuhkan peran seorang konselor
untuk membimbing para remaja terutama yang berada pada masa SMP dan SMA. Mereka
perlu dibimbing agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak baik dan
amoral. Juga agar semua tugas perkembangan remaja dapat terlaksana dengan baik
tanpa suatu kesalahan sedikit-pun.
Daftar pustaka :
Hurlock.
1980. Psikologi Perkembangan Suatu
Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Erlangga
Rifa’i,
A. dan Catharina T. A. 2012. Psikologi
Pendidikan. Semarang : UNNES PRESS
Kiat Memilih Beasiswa Luar Negeri
Kiat Memilih Beasiswa Luar Negeri
Beberapa
tips yang dapat membantu kita untuk memilih beasiswa luar negeri seperti
berikut :
1. Berusahalah
Untuk Excellent di Bidang Akademis
Hal pertama yang perlu kita lakukan apabila kita ingin
melanjutkan pendidikan selanjutnya dengan beasiswa adalah usahakan selalu
mendapatkan nilai bagus. Kalau ada kesempatan ikutilah olimpiade yang berkaitan
dengan bidang studi yang diminati.
Walau angka di atas kertas bukan segalanya tapi
pencapaian akademis yang bagus akan menunjukkan komitmenmu terhadap pemberi
beasiswa. Dalam beberapa kasus pemenang Olimpiade Sains akan lebih mudah
mendapatkan beasiswa.
2. Pintar
Aja Itu Biasa. Kalau Kamu Aktif Organisasi Baru Luar Biasa
Apakah kalian sudah merasa yakin bisa
mendapatkan beasiswa karena nilaimu selalu bagus? Eits, jangan salah. Nilai
bagus itu baru syarat awal. Diluar sana masih banyak yang lebih pintar
dibanding kamu. Pintar saja tidak pernah cukup. Kalian harus punya sesuatu yang
menarik untuk dijual ke pemberi beasiswa. Biasanya mereka akan mencari orang
yang tidak hanya berprestasi, tapi juga aktif di organisasi.
Kalau
kalian memang niat masuk dalam bursa perjuangan mendapatkan beasiswa mulailah
memperbanyak pengalaman organisasi. Gak perlu masuk partai politik atau bahkan
gerakan-gerakan aneh. Kamu bisa mulai dari
Himpunan Keluarga Mahasiswa kampus. Mereka yang aktif organisasi akan
lebih dilirik para pemberi beasiswa karena dianggap bisa memanfaatkan ilmu yang
didapat untuk kepentingan orang banyak.
3.
Mencari
Informasi Beasiswa yang Relevan
Untuk mencari
informasi beasiswa yang sesuai dengan keinginan kalian maka kalian harus
sering-sering mengunjungi website informasi
beasiswa yang ada di luar negeri, di dunia maya sudah banyak sekali website yang dibuat untuk mengumpulkan
informasi beasiswa. Contohnya adalah :
o www.milisbeasiswa.com,
dalam website tersebut terdapat berbagai informasi beasiswa baik yang di dalam
maupun luar negeri
o http://www.scp.gov.sg/content/scp/scholarships/singapore_scholarship.html,
dalam website ini terdapat berbagai kumpulan beasiswa yang ada di Singapura
o hotcourses.co.id/study/international-scholarships.html
o australiaawardsindonesia.org
4. Persiapkan
syarat-syarat yang dibutuhkan
Berbagai persyaratan yang mungkin diminta antara lain
:
·
Hasil
tes TOEFL/IELTS, Setelah cukup mempersiapkan diri dari bidang akademis
dan non-akademis kini saatnya kalian membuktikan bahwa kamu pasti survive di
negara orang karena bisa menguasai bahasanya. Salah satu persayaratan
beasiswa memang menuntutmu untuk meraih level tertentu dalam tes kemampuan
bahasa asing.
Masing-masing
beasiswa punya persyaratan tes bahasa sendiri, tapi yang paling umum digunakan
adalah TOEFL dan IELTS. Untuk mengamankan posisimu, pastikan kalian memiliki
skor TOEFL diatas 550 dan nilai IELTS diatas 6,5. Saat ini kamu bahkan bisa
mempersiapkan diri dengan mengikuti latihan via online untuk TOEFL dan IELTS.
·
Surat
rekomendasi dari dosen di pendidikan terdahulu, Untuk menilai performa
kalian di dunia nyata, pihak pemberi beasiswa akan meminta surat rekomendasi
dari mereka yang sudah mengetahui rekam jejak kalian. Biasanya surat
rekomendasi bisa diberikan oleh staf pengajar dari institusi tempat kalian
menempuh pendidikan
Rekomendasi
dari mereka sangat penting, karena tidak jarang pemberi beasiswa akan langsung
menghubungi untuk menanyakan pendapat tentang kalian. Pastikan kalian punya
rekam jejak yang cukup baik dalam pendidikan dan pekerjaan. Jaga hubungan baik
dengan mereka yang bisa memberi kalian rekomendasi.
·
Acceptance letter dari universitas yang dituju
Jumat, 26 Desember 2014
The Impact Of The Absence Of Career Guidance Programs On University Students (Article)
Running Head : THE
IMPACT OF THE ABSENCE OF CAREER GUIDANCE PROGRAMS ON UNIVERSITY STUDENTS
The Impact Of
The Absence Of Career Guidance Programs On University Students
Angga
Nurlitasari Hariyono
1301413073
Rombel 2
Semarang State
University
Author
Note
Angga Nurlitasari, first year student,
Semarang State Univesity.
This paper is part of
English course assignment. It is a literature research on articles of education
field of study.
Correspondence
concerning this article should be addressed to Angga Nurlitasari, Semarang
State University, Semarang, Central Java, Indonesia 50735.
Contact:
angga.nurlitasari@gmail.com
Introduction
Now,
career guidance is urgently needed for all walks
of life, both for students of elementary, junior high, and high school. They
need this program because this program is a program that is used to help
them in order to be able to plan their career will be reached. Especially
university students, they also need the career guidance
program so that they are able to plan their future careers. In this
article the researchers want to explain about the impact of the absence of
career guidance programs on university student.
Discussions
Now, urgency of the
career guidance programme is very needed. All student in elementary, junior
high, high school, and university need it. The programme is very important
because this program will help the students to develop career and can help them
to plan his career. This program can also give information about the workforce
and how the competition.
When the programme of
career guidance is not being governed it would impact very terrible. In
research describe by Sung dan Yuen (2012) about analysis of Chinese papers an articles on career guidance. The
result can be seen that the fact of Chinese papers and articles on career
guidance have been mostly written after 2004. It is verry worrying because the
program of career guidace has been mentioned long time ago.
The next result describe by Yang and You (2010) about career
guidance needs. This research was conducted by questionnaire to spread 400
students university in Taiwannes University. The result findings may be more
tentative than assertive and may not be explorated to other domestic or
overseas universities.
Conclusions
From both the result
can be known how impacts if the absence of guidance a career in a student.The
impact of that is a student in china new make paper about the guidance of a
career in 2004 and also students could not be explored inside and outside the
country.
References
Sun, V. J and Mantek Y. (2012). Career guidance and counseling
for university student in china. Int J
Adv Counselling, 34, 202-210. DOI 10.1007/s10447-012-9151-y
Yang, M and Manlai Y. (2010). A survey of career guidance needs
of industrial design students in Taiwanese Universities. Asia Pacific Education
Review (4) 11, 597-608. DOI
10.1007/s12564-010-9106-0
Kamis, 25 Desember 2014
Feeling Words
|
Pleasant
Feelings
|
|||
|
OPEN
|
HAPPY
|
ALIVE
|
GOOD
|
|
Understanding
|
Great
|
Playful
|
Calm
|
|
Confident
|
Gay
|
Courageous
|
Peaceful
|
|
Reliable
|
Joyous
|
Energetic
|
at ease
|
|
Easy
|
Lucky
|
Liberated
|
Comfortable
|
|
Amazed
|
Fortunate
|
Optimistic
|
Pleased
|
|
Free
|
Delighted
|
Provocative
|
Encouraged
|
|
Sympathetic
|
Overjoyed
|
Impulsive
|
Clever
|
|
Interested
|
Gleeful
|
free
|
surprised
|
|
Satisfied
|
thankful
|
frisky
|
content
|
|
Receptive
|
Important
|
animated
|
quiet
|
|
Accepting
|
festive
|
spirited
|
certain
|
|
Kind
|
Ecstatic
|
thrilled
|
relaxed
|
|
|
satisfied
|
wonderful
|
serene
|
|
|
Glad
|
|
free
and easy
|
|
|
Cheerful
|
|
bright
|
|
|
Sunny
|
|
blessed
|
|
|
Merry
|
|
reassured
|
|
|
elated
|
|
|
|
|
jubilant
|
|
|
|
LOVE
|
INTERESTED
|
POSITIVE
|
STRONG
|
|
loving
|
concerned
|
eager
|
impulsive
|
|
considerate
|
affected
|
keen
|
free
|
|
affectionate
|
fascinated
|
earnest
|
sure
|
|
sensitive
|
intrigued
|
intent
|
certain
|
|
tender
|
absorbed
|
anxious
|
rebellious
|
|
devoted
|
inquisitive
|
inspired
|
unique
|
|
attracted
|
nosy
|
determined
|
dynamic
|
|
passionate
|
snoopy
|
excited
|
tenacious
|
|
admiration
|
engrossed
|
enthusiastic
|
hardy
|
|
warm
|
curious
|
bold
|
secure
|
|
touched
|
|
brave
|
|
|
sympathy
|
|
daring
|
|
|
close
|
|
challenged
|
|
|
loved
|
|
optimistic
|
|
|
comforted
|
|
re-enforced
|
|
|
drawn
toward
|
|
confident
|
|
|
|
|
hopeful
|
|
|
Difficult/Unpleasant
Feelings
|
|||
|
ANGRY
|
DEPRESSED
|
CONFUSED
|
HELPLESS
|
|
irritated
|
lousy
|
upset
|
incapable
|
|
enraged
|
disappointed
|
doubtful
|
alone
|
|
hostile
|
discouraged
|
uncertain
|
paralyzed
|
|
insulting
|
ashamed
|
indecisive
|
fatigued
|
|
sore
|
powerless
|
perplexed
|
useless
|
|
annoyed
|
diminished
|
embarrassed
|
inferior
|
|
upset
|
guilty
|
hesitant
|
vulnerable
|
|
hateful
|
dissatisfied
|
shy
|
empty
|
|
unpleasant
|
miserable
|
stupefied
|
forced
|
|
offensive
|
detestable
|
disillusioned
|
hesitant
|
|
bitter
|
repugnant
|
unbelieving
|
despair
|
|
aggressive
|
despicable
|
skeptical
|
frustrated
|
|
resentful
|
disgusting
|
distrustful
|
distressed
|
|
inflamed
|
abominable
|
misgiving
|
woeful
|
|
provoked
|
terrible
|
lost
|
pathetic
|
|
incensed
|
in
despair
|
unsure
|
tragic
|
|
infuriated
|
sulky
|
uneasy
|
in a
stew
|
|
cross
|
bad
|
pessimistic
|
dominated
|
|
worked
up
|
a sense
of loss
|
tense
|
|
|
boiling
|
|
|
|
|
fuming
|
|
|
|
|
indignant
|
|
|
|
|
INDIFFERENT
|
AFRAID
|
HURT
|
SAD
|
|
insensitive
|
fearful
|
crushed
|
tearful
|
|
dull
|
terrified
|
tormented
|
sorrowful
|
|
nonchalant
|
suspicious
|
deprived
|
pained
|
|
neutral
|
anxious
|
pained
|
grief
|
|
reserved
|
alarmed
|
tortured
|
anguish
|
|
weary
|
panic
|
dejected
|
desolate
|
|
bored
|
nervous
|
rejected
|
desperate
|
|
preoccupied
|
scared
|
injured
|
pessimistic
|
|
cold
|
worried
|
offended
|
unhappy
|
|
disinterested
|
frightened
|
afflicted
|
lonely
|
|
lifeless
|
timid
|
aching
|
grieved
|
|
|
shaky
|
victimized
|
mournful
|
|
|
restless
|
heartbroken
|
dismayed
|
|
|
doubtful
|
agonized
|
|
|
|
threatened
|
appalled
|
|
|
|
cowardly
|
humiliated
|
|
|
|
quaking
|
wronged
|
|
|
|
menaced
|
alienated
|
|
|
|
wary
|
|
|


02.39
Unknown